Majalah Pendidikan Online | Info Edukatif, Tips, Psikologi, Lifestyle & Hobi

Rabu, 08 Mei 2013

~(*Muhammad Abduh Nasution*)~

~(*Muhammad Abduh Nasution*)~


Hukum Wanita Haidh Membaca dan Menyentuh Al-Qur an

Posted: 08 May 2013 04:25 PM PDT

Tanya:
Assalamu'alaikum wr.wb
sya mw brtnya 
sbnr ny bagi wanita yg mamnu'(Haid) blh tdk memegang Al-Qur'an wlw pn it brtafsir?




Jawab:


Wa'alaykumussalamu warohmatulLahi wabarokatuHu!
Sdri yang dimuliakan Allah dengan agama yang mulia ini, terkait pertanyaan ttg wanita haid, insya Allah saya akan menjawab sesuai dengan apa yang saya fahami:


1. Bahwa MENYENTUH mushaf Al-Quran terlarang bagi setiap yang berHADATS (baik kecil maupun besar). Dalilnya adalah hadits Nabi Muhammad dari sanad Abi Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm yang diriwayatkan oleh Imam Nasai, Daruquthni, dan Ats-ram. 
Namun pendapat lain mengatakan bahwa TIDAK WAJIB bersuci dalam hal menyentuh mushaf Al-Quran, alasannya karena ayat Qur an yang berbunyi "Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang yang bersuci" (Al-Waqi'ah : 79) tunjukannya kepada Malaikat, bukan kepada umat Islam.
Namun saya lebih cenderung kepada memegang Al-Qur an dengan wudhu' untuk menghormati Kalam Allah dan membedakannya dari kitab biasa. Tetapi jika dalam kondisi darurat, umpamanya kita hendak menyelamatkan Al-Qur an yang hanyut, boleh dilakukan tanpa wudhu bahkan dalam kondisi hadats besar sekalipun.


2. Bagaimana wanita haid yang membaca Al-Qur an namun tidak menyentuhnya? umpamanya ia mendengar lantunan ayat suci dari kaset atau mp3 dan dia mengikuti lantunan ayat tersebut?
Saya pernah baca beberapa fatwa Ulama yang dimuat dalam berbagai koran. Menurut mereka, wanita haidh hanya boleh membaca ayat Al-Quran yang merupakan doa dan amalan sehari-hari.
Awalnya saya bertaqlid dengan faham ini. Bahkan saya sangat heran ketika ada guru saya yang meynuruh siswinya (dalam keadaan haidh) untuk membaca Al-Quran namun tidak menyentuhnya.
Sampai saya membaca pendapat Imam Abu Hanifah, yang membolehkan wanita haidh untuk membaca Al-Qur an tanpa menyentuh mushaf.
Pendapat Imam Abu hanifah ini lebih mendekati kepada syari'at, sebab belum ada dalil shahih yang melarang wanita haidh membaca Al-Quran. Kecuali hanya qiyas saja bahwa wanita haidh disamakan dengan pria yang junub. Padahal waktu haidh lebih panjang daripada waktu junub. Jika seorang wanita haidh terlarang membaca Al-Quran, tentu akan mengurangi kesempatannya untuk membaca Al-quran dan mengurangi pahalanya serta menghalanginya untuk mempelajari Al-Quran. Jika seseorang tidak mempelajari Al-Quran, darimana ia bisa belajar agama?
Jadi kesimpulannya : Wanita Haidh boleh membaca Al-Quran dengan tidak menyentuh mushaf.


3. Apakah yang dimaksdud dengan Al-Qur an itu?
Syaikh Muhammad Abduh, salah seorang Ulama penegak sunnah bermadzhab Syaifi'i mengatakan:
Al-Quran ialah bacaan yang telah tertulis dalam mushaf yang terjaga dalam hafalan-hafalan umat Islam.
Sedangkan Abdul Wahab Kallaf dalam "Ilm Ushul al-Fiqh" mengatakan bahwa terjemah dan tafsir BUKAN merupakan mushaf Al-Quran, karena Al-Quran adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara mutawatir (berarti harus berbahasa Arab dan sesuai dengan apa yang diucapkan oleh Nabi Muhammad)
Kesimpulan:
1. Yang termasuk Al-Qur an
- Mushaf Al-Qur an itu sendiri
- Al-Qur an dan terjemahan.
- Lembaran Al-Qur an, umpamanya ada yang sobek selembar maka itupun adalah Al-Qur an
- Alat yang semua isinya adalah Al-Qur an. Contohnya bila ada Laptop/Handphone yang semua isinya adalah Al- Quran, maka itu adalah Al-Quran
- Buku tulis yang semua isinya adalah Al-Qur an mencakup dari Suroh Al-Fatihah sampai suroh An-Nas
2. Yang tidak termasuk Al-Quran:
- Tafsir Al-Quran. Karena para sahabat sudah menafsirkan Quran namun tak satupun yang menyatakan bahwa tafsir itu adalah Al-Qur an
- Terjemah Al-Qur an saja, tidak ada ayat Al-Qur an dalam bahasa Arab disana
- Satu juz Al-Qur an saja, umpamanya juz 1 saja, atau satu suroh saja.
- Handphone/Laptop yang punya software Al-Quran namun dalam komputer tsb terdapat file lain

Wallohu A'lam wa Hadana ila shirothil mustaqim innahul musta'an


* Pertanyaan ini berasal dari grup FB dan telah saya jawab juga di grup tsb


~(*Muhammad Abduh Nasution*)~

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar